Rabu, 28 November 2012

Contoh Proposal PTK PAI



PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DAN PEMBERIAN TUGAS
BELAJAR (RESITASI) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR
SISWA DALAM MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
KELAS IV PADA MATERI  SHALAT DAN RUKUN - RUKUN SHALAT
DI SDN 1 KALIORI  PURBALINGGA
TAHUN PELAJARAN 2011/2012
SKRIPSI
Oleh:
SUDARNO
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Di era modern sekarang, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat serta menyentuh pada semua aspek kehidupan manusia tak terkecuali di bidang pendidikan dan pengajaran. Pemerintah dewasa ini khususnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan berusaha untuk meningkatkan mutu pendidikan. Untuk mencapai tujuan tersebut maka pemerintah telah mengusahakan peningkatan mutu pendidikan mulai dari tingkat pendidikan dasar sampai ke tingkat perguruan tinggi. Di antaranya adalah penyempurnaan kurikulum 1975 menjadi kurikulum 1984, kemudian disempurnakan lagi menjadi kurikulum 1994 dan seterusnya hingga saat ini muncul kurikulum 2006. Selain itu, dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara yang ditetapkan dengan ketetapan MPR No IV/MPR/1978, pada bagian agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dinyatakan antara lain:
Pendidikan sangat penting dan harus dimengerti oleh semua umat manusia terutama dalam rangka mewujudkan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, sebagaimana tercantum dalam tujuan pendidikan  nasional:
“Pendidikan nasional berdasarkan pancasila bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa. Berbudi pekerti yang luhur, berkepribadian, disiplin , bekerja keras, tanggung jawab, cerdas, terampil, sehat jasmani dan rohani.”[1]
Dengan pembangunan manusia seutuhnya di Indonesia menghendaki keselarasan antar bangsa, serta keselarasan kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat. Hal ini kita dapat lihat dengan fenomena yang ada, apabila terlalu mementingkan kehidupan di dunia maka akan lupa kehidupan kita kelak yaitu kehidupan akhirat. Begitu juga sebaliknya, apabila kita terlalu mementingkan kehidupan akhirat yang akhirnya mengabaikan kehidupan dunia juga kurang baik. Dari itu perlu keseimbangan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat sesuai dengan harapan bangsa di dalam membangun dan menciptakan manusia seutuhnya.
Dalam peningkatan mutu pendidikan pemerintah selalu berusaha semaksimal mungkin untuk terbentuknya pendidikan yang berkualitas, pendidikan yang mampu berperan dalam persaingan global di era masa kini. Salah satu bentuk konkrit usaha pemerintah tersebut dengan mengadakan penataran guru-guru bidang studi, pengadaan buku-buku paket, dan menambah sarana dan prasarana untuk kegiatan proses belajar mengajar. Mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, proses memberikan, bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar.3 Sedangkan pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar pada setiap individu atau kelompok untuk merubah sikap dari tidak tahu menjadi tahu. Proses belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang di dalamnya terjadi proses siswa belajar dan guru mengajar dalam konteks interaktif, dan terjadi interaksi edukatif antara guru dan siswa, sehingga terdapat perubahan dalam diri siswa baik perubahan pada tingkat pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan atau sikap.[2]
SDN 1 Kaliori sebagai salah satu lembaga pendidikan yang sangat menjunjung keberhasilan pembelajaran, sehingga siswa yang diharapkan mampu menjadi seorang yang multidimensi yang berlandaskan agama. Usaha untuk seperti itu banyak dilakukan oleh lembaga terkait, seperti pemenuhan sarana prasarana, media pembelajaran dan guru yang profesional dengan harapan akan mampu menciptakan pengelolaan pembelajaran dengan baik, yang pada akhirnya akan menjadikan lembaga yang berkualitas.
Namun selain itu, banyak permasalahan-permasalahan pembelajaran yang terjadi di sekolah. Seperti, rendahnya prestasi belajar siswa, malas belajar, dan tidak terlalu mementingkan sekolah, mereka lebih memilih bermain dari pada harus belajar. Permasalahan seperti itu rata-rata dimiliki oleh setiap lembaga pendidikan. Hal itu yang kemudian menjadi tanggungjawab pihak sekolah dan guru untuk selalu memperbaiki keadaan tersebut, agar siswa mampu menjadi manusia yang berpengetahuan dan bermoral tinggi yang berlandaskan agama.
Jika diteliti, permasalahan-permasalahan tersebut muncul dari keseharian siswa di kelas. Di SDN 1 Kaliori  tempat penelitian ini banyak sekali ditemukan permasalahan. Seperti dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Pada pelajaran ini, siswa kurang antusias dan kurang peduli terhadap apa yang disampaikan guru, mereka lebih mementingkan hal lain dari pada belajar, seperti menggambar, bicara sendiri dengan teman di dekatnya. Hal itu tentu sangat mengganggu dan tidak memungkinkan untuk memperoleh hasil pembelajaran yang maksimal. Dalam kondisi yang demikian, tentu akan sangat berpengaruh terhadap prestasi atau hasil belajar siswa. Jika kondisi seperti ini tidak secepatnya  ditanggulangi, maka sangat mungkin kualitas lembaga akan menjadi menurun, karena salah satu indikator keberhasilan lembaga adalah mampu mencetak lulusan yang baik, sesuai dengan yang diharapkan oleh lembaga tersebut.
Metode dalam proses belajar mengajar merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Perumusan tujuan dengan sejelas-jelasnya merupakan syarat terpenting sebelum guru menentukan dan memilih metode mengajar yang tepat. Apabila guru dalam memilih metode mengajar kurang tepat akan menyebabkan kekaburan tujuan yang akan digunakan dalam mengajar.[3] Menurut Arifin, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan, karena ia menjadi sarana dalam penyampaian materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum. Tanpa metode, status materi pelajaran tidak akan dapat berproses secara efisien dan efektif dalam kegiatan belajar mengajar menuju tujuan pendidikan.[4] Selain itu guru dituntut untuk mengetahui serta menguasai beberapa metode dengan harapan guru tidak hanya menguasai secara teori tetapi guru dituntut memilih metode yang tepat untuk mengoperasionalkan dalam proses belajar mengajar dengan baik. Jadi guru dituntut untuk benar-benar mengetahui dan mengerti metode yang cocok dalam proses belajar mengajar, yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan siswa. Dan akhirnya pendidikan bisa mencapai tujuan yang diinginkan serta mendapatkan hasil yang maksimal.
Dalam proses belajar mengajar metode demonstrasi mutlak digunakan, karena seorang guru tidak hanya mengandalkan informasi ilmu, tanpa hasil yang sesuai dengan kurikulum yang sudah ada. Guru yang profesional akan menuntut suatu hubungan integral antara keselarasan materi dan praktek yang sudah dijelaskan oleh guru terhadap siswa. Guru akan mengetahui sejauh mana siswa bisa mempraktekkan atau mendemonstrasikan materi yang telah diberikan sehingga siswa dapat mengaplikasikan sikapnya dalam kehidupan.
Menurut Daradjat metode demonstrasi itu sendiri adalah metode yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik. Jadi metode demonstrasi, guru dan murid memperlihatkan kepada seluruh anggota  kelas tentang suatu proses, misalnya bagaimana cara shalat yang sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW.[5] Penggunaan metode demonstrasi diharapkan dapat memberikan pengaruh positif bagi siswa dan mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. Prestasi belajar siswa menyebar, yang berarti ada prestasi belajar siswa itu tinggi dan ada pula yang rendah. Dengan bervariasinya prestasi belajar siswa akan memotivasi guru untuk mengupayakan peningkatan prestasi belajar siswa dengan berbagai macam cara.
Pada peningkatan prestasi belajar siswa bukan hanya peran guru yang dibutuhkan tetapi siswa sendirilah yang dituntut peran aktif dalam proses belajar mengajar. Salah satu hal yang penting dimiliki oleh siswa dalam meningkatkan prestasi belajarnya adalah penguasaan bahan pelajaran. Siswa yang kurang menguasai bahan pelajaran akan mempunyai nilai yang lebih rendah bila dibandingkan dengan siswa yang lebih menguasai bahan pelajaran. Untuk menguasai bahan pelajaran maka dituntut adanya aktifitas dari siswa yang bukan hanya sekedar mengingat, tetapi lebih dari itu yakni memahami, mengaplikasikan, dan mengevaluasi bahan pelajaran.
Pada kenyataannya pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SD masih sebatas menyampaikan tentang keagamaan kepada siswa. Dengan penerapan metode demonstrasi dan resitasi pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi siswa dan mampu meningkatkan prestasi belajar siswa . Berdasarkan fenomena di atas sebagai gambaran problematika maka di sini penulis tertarik untuk mengangkat judul “PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DAN PEMBERIAN TUGAS BELAJAR (RESITASI) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS IV PADA MATERI  SHALAT DAN RUKUN - RUKUN SHALAT DI SDN 1 KALIORI  PURBALINGGA”.
B. Rumusan Masalah
Dari paparan latar belakang tersebut, peneliti menemukan suatu masalah yang perlu dibahas, yaitu: Bagaimana penerapan metode demonstrasi dan metode pemberian tugas belajar (resitasi) untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas IV di SDN 1 Kaliori  Purbalingga?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada permasalahan di atas, maka peneliti ini bertujuan untuk: Mengetahui apakah penerapan metode demonstrasi dan metode pemberian tugas belajar (resitasi) untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajarans Pendidikan Agama Islam kelas V Di SDN 1 Kaliori  Purbalingga.
D. Manfaat Penelitian
Hasil dan penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN 1 Kaliori  Purbalingga.
Adapun secara detail kegunaan tersebut di antaranya :
1. Bagi siswa
Dengan penerapan metode demonstrasi dan metode pemberian tugas belajar (resitasi) siswa dapat mengembangkan kreatifitas, tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian dalam belajar di luar pengawasan guru.
2. Bagi guru
Penerapan metode ini dapat membantu para guru atau peneliti dalam mengajarkan Pendidikan Agama Islam agar para siswa memiliki semangat dalam mempraktekkan pelajaran Pendidikan Agama Islam dan meningkatkan prestasi belajar serta untuk lebih giat dalam belajar.
3. Lembaga sekolah
Penerapan metode ini, diharapkan dapat menjadi acuan untuk lembaga atau sekolah dalam kaitannya siswa untuk dapat menerapkan pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.
4. Pengembang kurikulum
Dalam penerapan metode ini diharapkan bagi pengembang kurikulum untuk lebih memberikan kebijakan dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam terutama yang berhubungan dengan praktek.
5. Khasanah ilmu
Dengan adanya metode ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menerapkan ajaran-ajaran Islam, khususnya dalam bidang Pendidikan Agama Islam yang berhubungan dengan masyarakat dan bangsa Indonesia.
E. Sistematika Pembahasan
Adapun sistematika pembahasan dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:
BAB I : Ini memuat pendahuluan yang berisi tentang latar berlakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika pembahasan.
BAB II : Ini memuat kajian-kajian pustaka yang akan dibahas berupa topik-topik pembahasan.
BAB III : Ini merupakan metode Penelitian yang digunakan dalam  penelitian skripsi ini yang terdiri dari: (a). Pendekatan jenis penelitian (b). Lokasi penelitian (c). Kehadiran peneliti.(d). Sumber data (e). Metode pengumpulan data (f). Teknik Analisis data.(g). Langkah-langkah penelitian
BAB IV : Merupakan paparan hasil penelitian yang meliputi: (a). Latar belakang obyek (b). Paparan data.
BAB V : Paparan hasil penelitian
BAB VI Penutup yang meliputi: (a). Kesimpulan, (b). Saran


[1] UUSPN: undang-undang pendidikan nasional
[2] Sudjana, Nana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar,. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1984. hlm:29
[3] Zuhairini, dkk. Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam, Surabaya, Usaha Nasional, 1983. hlm:79
[4] Arifin, M., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Askara 2006. hlm:25
[5] Daradjat, Zakiah, dkk. Op.Cit. hlm:296


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar