Powered By Blogger

Kamis, 06 Desember 2012

Ya Allah, Aku Jatuh Cinta

Cinta sebuah kata yang membuat bibir tersenyum membuat jiwa terasa tenang, dengannya hidup terasa lebih bermakna. Setiap hari perasaan semakin membumbung tinggi tatkala mengingatnya, dan semakin sumringah tatkala bertemu dengan si doi. Cinta adalah fitrah yang Allah anugerahkan pada hamba-hambanya, saling kasih mengasihi antar lawan jenis untuk menyalurkan suka cita diantara keduanya. Sikap saling membutuhkan antar sesama manusia itulah yang menjadikannya hadir yang diawali oleh kedekatan yang intens, hingga pada akhirnya terjadi ikatan batin yang menguat. Siapapun anda baik seorang presiden, kuli, mahasiswa, pejabat bahkan pendekar sekalipun akan merasakannya.

Islam agama Rahmatallil ‘alamin telah membahas rambu-rambu dalam bercinta, tidak menjadi sebuah permasalahan jika mencintai, justu cinta harus dijaga, dirawat, dan dilindungi dari segala jenis kehinaan dan apa saja yang mengotorinya. Begitu pula Rasulullah dan para sahabat pernah merasakannya, hanya saja agama ini memberikan bentuk penyaluran yang tepat melalui sebuah ikatan yang jelas yakni pernikahan.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya. Dia menciptakan untukmu pasang-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikanNya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar-Rum : 21)

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa jenis cinta kepada wanita ada tiga yaitu

1. Mencintai wanita untuk mendekatkan diri kepada Allah contohnya : cinta seorang suami kepada istrinya yang mendorong untuk melaksanakan syariat Allah.
2. Cinta yang dapat mendatangkan murka Allah dan dapat menjauhkan dari rahmatNya. Jenis cinta ini lah yang mendatangkan kerusakan dalam sistem kehidupan masyarakat seperti zina, perselingkuhan dan pacaran.
3. Cinta yang mubah, cinta ini terjadi karena tidak ada unsur kesengajaan, sebagaimana mencintai bayangan seorang wanita yang berparas cantik. Tanpa sengaja dia melihat wanita itu lalu jatuh cinta. Dan cintanya itu tidak sampai menyebabkannya berbuat maksiat. Jika hasratnya telah menggebu maka sebaiknya ditempuh dengan jalur pernikahan, apabila belum mampu maka sibukkanlah diri ini dengan hal-hal yang bermanfaat.

Salah satu bentuk yang paling umum untuk menyalurkan hasrat cinta adalah pacaran. Umat islam khususnya, telah banyak terjerumus pada kebudayaan liberal ini. Pacaran adalah salah satu pintu setan laknatullah dalam menjerumuskan cucu Adam ke jurang Neraka, dalam pacaran tidak terdapat sama sekali faedah, justru malah membuat pribadi menjadi pengecut karena takutnya mengarungi pernikahan, hanya mau enaknya saja. Jika mau jujur sistem ala pacaran penuh dengan kedustaan, dan pengekangan yang tidak berdasar karena hakekatnya bukanlah sebuah ikatan yang jelas.

Jika ikatan ini saja tidak jelas maka rasionalkah tubuh ini dipegang, dipeluk, dikecup, waliyadzubillah. Sungguh menjijikkan mengikuti pola hidup orang-orang kuffar, apa bedanya kita dengan sifat mereka jika mengadopsi kebudayaannya. Pacaran adalah pintu menuju jurang zina yang lebih besar yaitu jima’ (persetubuhan), karena sebelum itu terjadi maka didahului dengan rabaan. Kalau pun sebagian orang memberikan alibinya bahwa selama pacaran belum pernah dan tidak akan pernah bersentuhan, maka akan ku beri pertanyaan “Bagaimana jika kau mengarungi samudra asmara selama bertahun-tahun bisakah kau menjamin tidak bersentuhan walau sedikitpun? bukankah jika kau berkhalwat (berdua-duaan) memungkinkan bagimu melakukannya? mustahil jika kalian pacaran hanya bersifat monoton. Bukankah angan-anganmu selalu menghantuimu untuk selalu dekat, dan kemungkinan besar itu akan terjadi?” Ala bisa karena biasa.

“Dan jaganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (QS. Al-Isra : 32)

“Telah tertulis atas anak Adam nasibnya dari zina. Akan bertemu dengan hidupnya, tidak bisa tidak. Maka kedua mata, zinanya adalah memandang. Kedua telinga, zinanya berupa menyimak dengarkan. Lisan, zinanya berkata. Tangan, zinanya menyentuh. Kaki, zinanya berjalan. Dan zinanya hati adalah ingin dan angan-angan. Maka akan dibenarkan hal ini oleh kemaluan, atau didustakannya.” (HR. Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, ini juga yang membuktikan bahwa “Pacaran Islami” tidak ada.

Rasa suka tersebut datang karena banyak hal entah itu parasnya, kecerdasannya, kekayaannya, agamanya, keturunannya.

“Wanita dinikahi karena empat hal : sebab hartanya, kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama agar barakah kedua tanganmu.” (HR. Muslim)

Dari mata turun ke hati, sebaiknya orang seperti ini harus mengingat sebuah kutipan dari Al-Qur’an. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya…” (QS. An-Nur : 30-31)

Ini sering terjadi diakibatkan melihat seseorang yang berwajah rupawan, jika engkau terus menatapnya maka memungkinkan bagimu untuk terus mengingatnya dan berusaha menginginkannya, jadi pandangan jangan di buat berkeliaran.

Dari Jabir bin Abdillah, beliau berkata : “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang pandangan yang tiba-tiba. Beliau bersabda : Palingkan segera pandanganmu!” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Dalil lainnya dalam sebuah kisah :

Suatu ketika Al Fadl bin Abbas pernah membonceng Nabi Muhammad, beliau tengah melakukan haji Wada’ kemudian ada wanita Khats’amiyah yang meminta fatwa pada Nabi. Pada waktu itu Al Fadl menoleh pada seseorang wanita yang berwajah cantik. Kecantikan itu menarik hatinya, demikian pula wanita itu pun memandang pada Al Fadl. Maka Rasulullah pun memegang dagu Al Fadl dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Al Abbas bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau palingkan leher anak pamanmu ?” Beliau menjawab, “Saya melihat ada pemuda dan pemudi yang aku tidak bisa tenang kalau-kalau ada gangguan setan terhadap keduanya.”

Suatu waktu ada sahabat Rasulullah yang hendak menemui beliau, sedangkan ketika itu Rasulullah bersama Aisyah. Maka mendengar sahabatnya yang buta tersebut datang, segera Rasulullah menyuruh Aisyah untuk masuk ke dalam. Dia Mendengar perintah Nabi, Aisyah berkata, “Bukankah dia tidak bisa melihat ?” Rasulullah bersabda, “Tapi bukankah kamu bisa melihat?”

Kadang aku dibuat tertawa oleh kaum muda mudi yang sedang di mabuk asmara, mereka harus mencari tempat yang jauh dari kerumunan orang untuk menyalurkan nafsu syahwatnya. Setelah selesai masa berlaku romantika itu, beralih lagi ke target selanjutnya dan begitu seterusnya. “Aku sudah bosan dengan dia, mau cari yang baru” yang lain mengatakan “Kami sudah tidak cocok lagi, makanya kami bubar saya akan mencari lelaki yang lebih mengerti aku” serta ribuan alasan classic lain. Setan laknatullah telah tertawa “ngakak” melihat kelakuan mereka, mereka tidak ubahnya seperti binatang yang siap sedia membuka celah untuk bercinta “di mana saja dan kapan saja” seperti slogan layanan komunikasi. Apa sesungguhnya yang mereka cari, gonta-ganti pasangan layaknya baju bekas yang dijual di pasar murah. Habis manis sepah dibuang, sungguh kasihan. Tersirat dalam pikirku “Sungguh hanya menghabiskan banyak waktu pada hal-hal yang tidak berguna” . Tidakkah mereka malu kepada Rabb yang penjagaanya selalu “Standby” setiap saat.

Terdapat pula opini masyarakat bahwa, hanya dengan pacaran merupakan sarana yang efektif ajang saling mengenal sebelum memasuki pintu pernikahan. Pacaran bukan satu-satunya jalan mengenali calon pendamping hidup, cukup saja sesi ta’aruf (perkenalan) atau minta keterangan lebih lanjut dari kerabatnya mengenai perilaku hidupnya sehari-hari. Jika sudah mantap maka nikahilah, insyaallah semua itu akan berbuah barakah.

Seorang uztadzah pernah membeberkan kisah pernikahannya, beliau berkata : “Sentuhan pertama yang kudapat dari suamiku sungguh luar biasa, karena ini untuk pertama kalinya aku di sentuh oleh seorang laki-laki, sehingga “casnya” lebih dahsyat.” Sontak seluruh kaum hawa dibuatnya tertawa. Bagaimana tidak, kejadian tersebut untuk pertama kalinya beliau disentuh, sehingga rasa cinta terhadap suaminya semakin menguat. Secara otomatis sangat jauh berbeda dari pasangan yang berpacaran karena sentuhan maupun rabaan telah ia dapatkan sehingga hari-hari yang dilalui bersama pasangannya setelah pernikahan tinggal “ampas” nya saja.

“Andaikata seorang lelaki kepalanya ditusuk dengan jarum besi, hal itu lebih baik daripada dia menyentuh perempuan yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabrani)

Akhwat dan ikhwan sekalian pasangan kita adalah cerminan dari karakter kita, logisnya kita menginginkan sesuatu yang lebih baik dari diri ini. Maka cobalah untuk menjadi pribadi yang bertakwa dan Allah akan mendatangkan pasangan yang menawan pula.

“…dan wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik…” (QS. An-Nur : 26)

Namun perubahan anda jangan didasari oleh keinginan mendapatkan pasangan yang sholehah tetapi niat anda berubah karena Allah Azza Wa Jalla.

“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan dari apa yang diniatkannya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang akan dicapainya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan niat hijrahnya itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ku tahu dalam hati-hati kalian menginginkan rasa itu dapat tersalurkan dan si dia yang engkau cintai dapat mengetahuinya. Namun ingatlah saudaraku cukuplah kau dan Allah yang mengetahuinya, cintai ia dengan diammu, Dia tahu semua yang kau inginkan tapi jagalah dirimu dari Naar yang menyala-nyala. Kalau kau merasa kesulitan melupakannya maka cobalah untuk menjauh darinya, carilah keburukan-keburukan pada dirinya (bukan maksud mencari aibnya, namun ini lebih kepada maslahat pribadi), sibukkan dirimu dengan rutinitas yang banyak seperti belajar, mengikuti kajian, serta kegiatan-kegitan positif lainnya, dan yang tidak kalah penting mintalah kemudahan kepada Allah Azza Wa Jalla.

Kalau ia adalah jodohmu maka Dia Yang Maha Kuasa mampu mempertemukanmu dengannya, jadi mengapa kamu mempermasalahkannya. Kalau pun tidak maka Allah yang lebih tahu mana yang terbaik, serahkan segala urusanmu kepadaNya. Cukuplah diri ini mengikuti bagaimana Rasulullah dalam bercinta dengan para istri-istrinya, beliau adalah suri tauladan yang baik. Jika engkau membaca kisah-kisah beliau bersama para istrinya sungguh akan membuatmu takjub, beliau tipikal seorang suami yang romantis contoh-contohnya banyak seperti menemani Aisyah mandi bersama, mengajaknya lomba lari, meminum air dari mulut mug yang sama, serta banyak kisah kemesraan lainnya.

Setelah menikah kaupun bebas mendatangi pasanganmu dari mana saja yang kamu suka, tanpa harus berfikir dampak negatifnya ke depan. Segala yang kau jalani bersama si doi akan berbuah pahala bukan dosa, dan kau pun tidak merasa was was lagi jika memamerkan kemesraanmu.

Bertawakkal dan berusaha untuk menjadi pribadi yang menawan jika waktu membahagiakan itu tiba, dan kemudian baru kau ucapkan ya Allah, aku jatuh cinta.
https://www.facebook.com/pages/_-IjiNkan-Ku-Jemput-Jodohku-_/206455609483164?ref=ts&fref=ts

Rabu, 05 Desember 2012

ADMINISTRASI SARANA DAN PRASARANA SEKOLAH



ADMINISTRASI SARANA DAN PRASARANA SEKOLAH


Makalah

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Administrasi Sekolah
Dosen Pengampu: Drs. H. Jasuri, M. Si



 






Disusun Oleh:
Muhammad Asep Widodo                 093111070
Muhammad Wafiq Amali                  093111072
Mufatihah                                           093111073



FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012





I.            PENDAHULUAN
Dalam pendidikan, sarana dan prasarana sangat penting karena dibutuhkan. Sarana dan prasarana pendidikan dapat berguna untuk menunjang penyelenggaraan proses belajar mengajar, baik secara langsung maupun tidak landsung dalam suatu lembaga dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Prasarana dan sarana pendidikan adalah salah satu sumber daya yang menjadi tolok ukur mutu sekolah dan perlu peningkatan terus menerus seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup canggih.[1]
Administrasi sarana prasarana pendidikan merupakan hal yang sangat menunjang atas tercapainya suatu tujuan dari pendidikan, sebagai seorang personal pendidikan kita dituntut untuk menguasai dan memahami administrasi sarana prasarana, untuk meningkatkan daya kerja yang efektif dan efisien serta mampu menghargai etika kerja sesama personal pendidikan, sehingga tercipta keserasian, kenyamanan yang dapat menimbulkan kebanggaan dan rasa memiliki baik dari warga sekolah maupun warga masyarakat sekitarnya.[2]
Oleh karena itu, dalam makalah ini akan membahas lebih lanjut mengenai administrasi sarana dan prasarana sekolah.

II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Pengertian Administrasi Sarana dan Prasarana Sekolah
B.     Tujuan dan Prinsip Administrasi Sarana dan Prasarana Sekolah
C.    Perencanaan Kebutuhan, Pengadaan dan Pengembangan Sarana dan Prasarana Pendidikan
D.    Penataan Sarana dan Prasarana Pendidikan

III.            PEMBAHASAN
A.    Pengertian Administrasi Sarana dan Prasarana Sekolah
Kata administrasi berasal dari bahasa latin “ad” dan “ministro”, yang mempunyai arti “kepada” dan ”melayani”. Administrasi dapat diartikan pelayanan atau pengabdian kepada subyek tertentu. Secara istilah administrasi yaitu upaya mencapai tujuan sacara efektif dan efisien dengan memanfaatkan orang-orang dalam suatu pola kerjasama.[3]
Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar seperti gedung, ruang kelas, meja-kursi, alat-alat dan media pengajaran. Adapun yang dimaksud prasarana adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran seperti halaman, kebun, taman sekolah dan jalan menuju sekolah.[4]
Menurut Ibrahim Bafadal (2003: 2), sarana pendidikan adalah “semua perangkatan peralatan, bahan dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah”. Wahyuningrum (2004: 5), berpendapat bahwa sarana pendidikan adalah “segala fasilitas yang diperlukan dalam proses pembelajaran, yang dapat meliputi barang bergerak maupun barang tidak bergerak agar tujuan pendidikan tercapai”.
Sedangkan menurut Tim Penyusun Pedoman Media Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar, baik yang bergerak, maupun tidak bergerak, agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efisien.[5]
Jadi, administrasi sarana dan prasarana sekolah adalah seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan sungguh-sungguh serta pembinaan secara continue terhadap benda-benda pendidikan agar senantiasa siap pakai dalam proses belajar mengajar sehingga efektif dan efisien guna membantu tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan didalam sekolah.

B.     Tujuan dan Prinsip Administrasi Sarana dan Prasarana Sekolah
1.      Tujuan administrasi sarana dan prasarana
Tujuan administrasi sarana prasarana sekolah secara umum adalah memberikan pelayanan secar professional dibidang sarana dan prasarana pendidikan dalam rangka terselenggaranya proses pendidikan secara efektif dan efesien. Adapun tujuan secra khususnya adalah sebagai berikut:
a.          Untuk mengupayakan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan melalui system perencanaan dan pengadaan yang hati- hati dan seksama.
b.         Untuk mengupayakan sarana dan prasarana sekolah secar tepat dan efisien, sehingga keberadaannya selalu dalam kondisi siap pakai. [6]
2.      Prinsip-prinsip pengelolaan sarana dan prasarana
Menurut hunt pierce Ada beberapa prinsip dasar pengelolaan sarana dan prasarana sebagai berikut:
a.          Lahan bangunan, dan perlengkapan perabot sekolah harus menggambarkan cita dan citra masyarakat, seperti halnya yang dinyatakan dalam filsafat dan tujuan pendidikan.
b.         Perencanaan lahan bangunan dan perlengkapan-perlengkapan perabot sekolah hendaknya merupakan pancaran keinginan bersama dan dengan pertimbangan suatu tim ahli yang cukup cakap yang ada dimasyarakat itu.
c.          Lahan bangunan dan perlengkapan-perlengkapan perabot sekolah hendaknya di sesuaikan dan memadai bagi kepentingan anak-anak didik, demi terbentiknya karakter mereka dan dapat melayani serta menjamin mereka di waktu belajar, bekerja, bermain sesuai bakat msaing-masing.
d.         Lahan bangunan dan perlengkapan-perlengkapan perabot sekolah serta alat-alat hendaknya disesuaikan dengan kepentingan pendidikan yang bersumber dari kepentingan serta kegunaan bagi murid-murud dan guru-guru.
e.          Sebagai penanggung jawab harus dapat membentu program sekolah secara efektif, melatih para petugas serta memilih alatnya dan cara menggunakannya agar mereka dapat menyesuaikan diri serta melaksanakan tugasnya sesuai dengan fungsi dan profesinya.
f.          Seorang penanggung jawab sekolah harus mempunyai kecakapan untuk mengenal, baik kualitatif dan kuantitatif serta menggunakannnya dengan tepat fungsi bangunan dan perlengkapannya.
g.         Sebagai penanggung jawab harus mampu memelihara serta menggunakan bangunan dan tanah sekitarnya sehingga ia dapat membantu terwujudnya kesehatan, keamanan, klebahagiaan dan keindahan serta kemajuan dari sekolah dan masyarakat.
h.         Sebagai penanggung jawab sekolah bukan hanya mengetahui kekayaan sekolah yang di percayakan padanya, tetapi harus memperhatikan seluruh keperluan alat-alat pendidikan yang dibutuhkan oleh anak didiknya.[7]

C.    Perencanaan kebutuhan, pengadaan dan pengembangan sarana dan prasarana pendidikan
Perencanaan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan merupakan pekerjaan yang kompleks, karena harus terintegrasi dengan rencana pembangunan baik nasional, regional maupun local. Perencanaan ini merupakan system perencanaan terpadu dengan perencanaan pembangunan tersebut. Kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan tergantung pada jenis program pendidikan dan tujuan yang di tetapkan.
1)      Perencanaan pengadaan tanah untuk gedung atau bangunan sekolah
2)      Perencanaan pengadaan bangunan gedung sekolah
3)      Perencanaan pembangunan banguna  gedung sekolah
4)      Perencanaan pengadaan perabot dan pelengkapan pendidikan
5)      Pengadaan sarana dan prasarana pendidikan
6)      Inventasisasi sarana dan prasarana pendidikan
7)      Pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan
8)      Penggunaan sarana dan prasarana pendidikan
9)      Penghapusan sarana dan prasarana pendidikan[8]

D.    Penataan Sarana Dan Prasarana Pendidikan
Sarana dana prasarana merupakan sumber utama yang memerlukan penataaan sehingga fungsional, aman dan atraktif untuk keperluan proses-proses belajar di sekolah. Dibawah ini dikemukakan beberapa petunjuk teknis berkenaan dengan bagaimana menata sarana dan prasarana pendidikan, yaitu:
1.      Tata ruang dan bangunan sekolah
Hubungan antara ruang-ruang yang dibutuhkan dengan pengaturan letaknya pada kurikulum yang berlaku dan tentu saja ini akan memberikan pengaruh terhadap penyusunan jadwal pelajaran. Hal ini perlu diperhatikan antara lain:
a.       Ruang kegiatan belajar ditempatkan dibagian yang paling terang, tetapi tidak silau dan jauh dari gangguan atau sumber kebisingingan atau keributan.
b.      Ruang keterampilan/praktek yang dapat merupakan sumber kebisingan ditempatkan jauh dari ruang  belajar.
c.       Ruang laboratorium ditempatkan terpisah namun mudah dan cepat terjangkau.
2.      Penataan perabotan sekolah
Tata perabot sekolah mencakup pengaturan barang-barang yang dipergunakan oleh sekolah, sehingga menimbulkan kesan dan kontribusi yang baik pada kegiatan pendidikan. Hal-hal yang harus diperhatikan antara lain:
a.       Perbandingan antara luas lantai dan ukuran perabot yang akan dipakai dalam ruangan tersebut.
b.      Kelonggaran jarak dan dinding kiri-kanan
c.       Jarak antara satu perabot dengan perabot lainnya
d.      Jarak deret perabot (meja-kursi) terdepan dengan papan tulis
e.       Jarak deret perabot (meja-kursi) paling belakang dengan tembok batas
f.       Arah menghadapnya perabot
g.      Kesesuaian dan keseimbangan.

3.      Penataan perlengkapan sekolah
penataan perlengkapan sekolah mencakup pengaturan perlengkapan di ruang kepala sekolah, ruang tata usaha, ruang guru, ruang kelas, ruang BP, ruang perpustakaan, dsb. Ruang-ruang tersebut perlengkapannya perlu ditata sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan yang baik kepada penyelenggara pendidikan yang dilaksanakan disekolah dan menimbulkan perasaan senang dan betah pada guru yang mengajar dan siswa yang belajar.
Pada ruang guru, selain perlengkapan guru juga dilengkapi dengan: jadwal pelajaran, kalender akademik, daftar pembagian tugas guru, dll. [9]

IV.            KESIMPULAN
Administrasi sarana dan prasarana sekolah adalah seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan sungguh-sungguh serta pembinaan secara continue terhadap benda-benda pendidikan agar senantiasa siap pakai dalam proses belajar mengajar sehingga efektif dan efisien guna membantu tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan didalam sekolah.
Tujuan administrasi sarana prasarana sekolah adalah memberikan pelayanan secar professional dibidang sarana dan prasarana pendidikan dalam rangka terselenggaranya proses pendidikan secara efektif dan efesien.
Beberapa prinsip dasar pengelolaan sarana dan prasarana sebagai berikut: Lahan bangunan, dan perlengkapan perabot sekolah harus: a). menggambarkan cita dan citra masyarakat, b). pancaran keinginan bersama dan pertimbangan suatu tim ahli, c). di sesuaikan dan memadai bagi kepentingan anak-anak didik, d). dll.
Perencanaan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan yaitu:  Perencanaan pengadaan tanah untuk gedung, bangunan gedung, pembangunan bangunan  gedung, pengadaan perabot pelengkapan sarana-prasarana, inventasisasi, pemeliharaan, penggunaan dan penghapusan sarana dan prasarana pendidikan

Beberapa petunjuk teknis berkenaan dengan bagaimana menata sarana dan prasarana pendidikan, yaitu: tata ruang dan bangunan sekolah, penataan perabotan dan perlengkapan sekolah.

V.            PENUTUP
Demikianlah, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan dapat menambah pembelajaran dalam khasanah keilmuan kita. Kami sadar tentunya makalah ini tidak lepas dari kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah selanjutnya menjadi lebih baik.


DAFTAR PUSTAKA
Daryanto. Administrasi Pendidikan. Jakarta: PT. Rieneka Cipta. 2010.
Dosen Administrasi Pendidikan Tim,. Pengelola Pendidikan. Bandung: Jurusan
Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan UPI. 2003.
Gunawan, Ary H. Administrasi Sekolah (Administrasi Pendidikan Mikro). Jakarta: Rieneka Cipta. 1996).
http://rafafarllyblue.blogspot.com/2009/05/administrasi-sarana-dan-prasarana.html/02/07/2012/02:30
http://belajarpsikologi.com/pengertian-sarana-pendidikan/6;37/02/07/2012
 Mulyasa. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. 2003.









[1] http://belajarpsikologi.com/pengertian-sarana-pendidikan/6;37/02/07/2012
[2] Ary H. Gunawan, Administrasi Sekolah (Administrasi Pendidikan Mikro), (Jakarta: Rieneka Cipta, 1996), hlm. 114.
[3] Daryanto, Administrasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Rieneka Cipta, 2010), hlm. 1-2.
[4] Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2003), cet. Ke-3, hlm. 49.
[5] http://belajarpsikologi.com/pengertian-sarana-pendidikan/6;37/02/07/2012
[6] http://rafafarllyblue.blogspot.com/2009/05/administrasi-sarana-dan-prasarana.html/02/07/2012/02:30
[7] Tim Dosen Administrasi Pendidikan, Pengelola Pendidikan, (Bandung: Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan UPI, 2003), hlm. 117-118.
[8] Tim Dosen Administrasi Pendidikan, Pengelola Pendidikan, hlm. 118-127.
[9] Tim Dosen Administrasi Pendidikan, Pengelola Pendidikan, hlm. 127-128.